Sunday, March 10, 2013

Keanekaragaman Khamir Pendegradasi Minyak


KEANEKARAGAMAN KHAMIR PENDEGRADASI MINYAK HASIL
ISOLASI DARI PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA

Pencemaran minyak sering terjadi di lingkungan laut dan sumber pencemaran antara lain dari kecelakaan kapal, pencucian tanki-tanki kapal, limbah minyak hasil operasional kapal, aliran sungai yang membawa limbah industri, automobil, limbah domestik, dan sebagainya. Penanggulangan pencemaran minyak di perairan secara kimia dapat dilaksanakan dengan mudah dan cepat, tetapi penanggulangan dengan cara tersebut menggunakan bahanbahan pembersih yang mengandung pemantap bahan pelarut organik yang tinggi daya racunnya. Oleh karena itu, penanggulangan secara biologi yang ramah lingkungan perlu dikembangkan untuk mengatasi pencemaran hidrokarbon minyak. Lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat terdegradasi oleh mikroba tertentu. Keberadaan mikroba pendegradasi hidrokarbon tersebar luas di alam. Bakteri, kapang dan khamir tertentu dapat mendegradasi hidrokarbon minyak dalam ekosistem perairan. Proses degradasi yang melibatkan mikroba dikenal dengan istilah biodegradasi. Khamir adalah jamur yang tahap siklus kehidupannya berasal dari sel-sel tunggal dan sebagian besar berkembang biak melalui pertunasan (budding). Dasar-dasar utama identifikasi dan klasifikasi khamir terdiri atas pembentukan askospora, morfologi sel vegetatif, metode reproduksi aseksual, produksi miselium/pseudomiselium atau tidak, cirri pertumbuhan di media cair, warna koloni, dan ciri-ciri fisiologis. Di Indonesia perkembangan penelitian khamir pendegradasi minyak belum begitu pesat. Penelitian tentang peran khamir dalam mendegradasi minyak merupakan kajian yang masih perlu terus dikembangkan. Oleh sebab itu penelitian ini diarahkan untuk mengungkap keanekaragaman khamir pendegradasi minyak yang diperoleh dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.


Khamir yang berhasil diisolasi digolongkan dalam khamir pendegradasi minyak, karena pada waktu isolasi menggunakan media yang mengandung minyak sebagai satu-satunya sumber karbon. Jika khamir tersebut tumbuh berarti khamir tersebut dapat menggunakan karbon dari minyak sebagai sumber karbon untuk pertumbuhannya. Dalam kultur cair pertumbuhan khamir menunjukkan beberapa perbedaan. Khamir oksidatif tumbuh membentuk lapisan (film) atau pelikel pada kultur cair, sedangkan khamir fermentatif biasanya tumbuh di seluruh cairan (Frazier, 1986). Pada kultur media SDA koloni khamir tampak bervariasi dalam bentuk, tepian, dan elevasi. Pada khamir yang membentuk hifa atau pseudohifa, pada tepi sekitar koloni tampak bentukan seperti rambut. Koloni khamir ada yang berwarna putih, krem, dan merah. Pigmentasi juga nampak pada pengamatan koloni. Dalam Schlegel, 1993, dinyatakan bahwa koloni yang menarik perhatian karena warnanya yang mencolok, disebabkan karena terjadi sekresi zat warna ke dalam medium atau pigmentasi sel. Koloni yang berwarna merah berasal dari karotenoid. Dari hasil uji morfologi koloni, hanya koloni khamir-1 (Rhodotorula) yang berwarna merah. Hal ini didukung dalam Frazier (1986) yang menunjukkan bahwa Rhodotorula merupakan salah satu khamir yang menghasilkan pigmen karotenoid. Pengamatan mikroskopik dilakukan dalam 2 media, karena bentuk, ukuran dan reproduksi aseksual (budding dan arthrospora) lebih jelas diamati dalam media Sabouraud Broth, sedangkan media Cornmeal Agar-Tween 80 digunakan untuk pembentukan hifa dan pseudohifa dan menstimulasi pembentukkan spora. Pemberian Tween 80 berguna untuk mempercepat pertumbuhan chlamydospora. Dari hasil pengamatan dengan menggunakan Slide Culture, tidak satu pun isolat yang menampakkan adanya chlamydospora, yang pada umumnya dimiliki oleh Candida patogen yaitu Candida albicans. Uji kapsul dilakukan karena beberapa khamir memiliki kapsul, sehingga sangat perlu untuk identifikasi. Jika khamir memiliki kapsul maka dengan pewarnaan kristal violet dan tembaga sulfat, kapsul akan tampak sebagai lingkaran berwarna biru pucat mengelilingi sel-sel berwarna biru tua sampai ungu. Dari hasil pewarnaan tersebut, uji positif hanya terdapat pada khamir 1 (Rhodotorula) dan khamir 7 (Cryptococcus). Salah satu karakteristik dari Cryptococcus adalah memiliki kapsul, sedangkan Rhodotorula ada juga yang memilikinya (Larone, 1993). Khamir berbeda kemampuannya dalam menghidrolisis urea konsentrasi tinggi menjadi amoniak dalam media lengkap yang mengandung pepton sebagai sumber nitrogen (Kreger-van Rij, 1987). Pada uji urease dengan menggunakan media Christensen’s Urea Agar (mengandung pepton, urea, dan phenol red), hanya khamir 1 (Rhodotorula), khamir 6 (Trichosporon) dan khamir 7 (Cryptococcus) yang memberikan uji positif. Hal ini menunjukkan bahwa khamir tersebut memiliki kemampuan menghasilkan urease. Jika ada aktivitas urease, amoniak akan dihasilkan, pH medium naik dan akan terjadi perubahan warna phenol red dari kuning (pH 6,8) menjadi merah keunguan (pH > 8,1). Uji askospora dilakukan dengan metode modifikasi Scaeffer-Fulton’s. Jika khamir memiliki askospora, maka dengan pewarnaan tersebut askospora akan berwarna hijau dan sel vegetatif berwarna merah. Hasil uji askospora hanya khamir 8 (Debaryomyces) dan khamir 9 (Saccharomyces) yang memberikan hasil positif. Pada khamir 8 (Debaryomyces) memiliki askospora berbentuk bulat dengan jumlah 1-3 (umumnya 1), sedangkan khamir 9 (Saccharomyces) mengandung 1-4 askospora dengan bentuk bulat. Spora tersebut tidak nampak dibebaskan dari askus.


Sumber :
Tri Nurhariyati, Ni’matuzahroh, Tini Surtiningsih. 2004. KEANEKARAGAMAN KHAMIR PENDEGRADASI MINYAK HASILISOLASI DARI PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA. Surabaya : FMIPA-Universitas Airlangga

No comments:

Post a Comment