KEANEKARAGAMAN
KHAMIR PENDEGRADASI MINYAK HASIL
ISOLASI
DARI PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA
Pencemaran minyak
sering terjadi di lingkungan laut dan sumber pencemaran antara lain dari
kecelakaan kapal, pencucian tanki-tanki kapal, limbah minyak hasil operasional
kapal, aliran sungai yang membawa limbah industri, automobil, limbah domestik,
dan sebagainya. Penanggulangan pencemaran minyak di perairan secara kimia dapat
dilaksanakan dengan mudah dan cepat, tetapi penanggulangan dengan cara tersebut
menggunakan bahanbahan pembersih yang mengandung pemantap bahan pelarut organik
yang tinggi daya racunnya. Oleh karena itu, penanggulangan secara biologi yang
ramah lingkungan perlu dikembangkan untuk mengatasi pencemaran hidrokarbon
minyak. Lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat terdegradasi oleh
mikroba tertentu. Keberadaan mikroba pendegradasi hidrokarbon tersebar luas di
alam. Bakteri, kapang dan khamir tertentu dapat mendegradasi hidrokarbon minyak
dalam ekosistem perairan. Proses degradasi yang melibatkan mikroba dikenal
dengan istilah biodegradasi. Khamir adalah jamur yang tahap siklus kehidupannya
berasal dari sel-sel tunggal dan sebagian besar berkembang biak melalui
pertunasan (budding). Dasar-dasar utama identifikasi dan klasifikasi
khamir terdiri atas pembentukan askospora, morfologi sel vegetatif, metode
reproduksi aseksual, produksi miselium/pseudomiselium atau tidak, cirri pertumbuhan
di media cair, warna koloni, dan ciri-ciri fisiologis. Di Indonesia
perkembangan penelitian khamir pendegradasi minyak belum begitu pesat.
Penelitian tentang peran khamir dalam mendegradasi minyak merupakan kajian yang
masih perlu terus dikembangkan. Oleh sebab itu penelitian ini diarahkan untuk
mengungkap keanekaragaman khamir pendegradasi minyak yang diperoleh dari
Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Khamir yang berhasil
diisolasi digolongkan dalam khamir pendegradasi minyak, karena pada waktu
isolasi menggunakan media yang mengandung minyak sebagai satu-satunya sumber
karbon. Jika khamir tersebut tumbuh berarti khamir tersebut dapat menggunakan
karbon dari minyak sebagai sumber karbon untuk pertumbuhannya. Dalam kultur
cair pertumbuhan khamir menunjukkan beberapa perbedaan. Khamir oksidatif tumbuh
membentuk lapisan (film) atau pelikel pada kultur cair, sedangkan khamir
fermentatif biasanya tumbuh di seluruh cairan (Frazier, 1986). Pada kultur media SDA
koloni khamir tampak bervariasi dalam bentuk, tepian, dan elevasi. Pada khamir yang
membentuk hifa atau pseudohifa, pada tepi sekitar koloni tampak bentukan seperti rambut.
Koloni khamir ada yang berwarna putih, krem, dan merah. Pigmentasi juga nampak
pada pengamatan koloni. Dalam Schlegel, 1993, dinyatakan bahwa koloni yang
menarik perhatian karena warnanya yang mencolok, disebabkan karena terjadi
sekresi zat warna ke dalam medium atau pigmentasi sel. Koloni yang berwarna
merah berasal dari karotenoid. Dari hasil uji morfologi koloni, hanya koloni
khamir-1 (Rhodotorula) yang berwarna merah. Hal ini didukung dalam
Frazier (1986) yang menunjukkan bahwa Rhodotorula merupakan salah satu
khamir yang menghasilkan pigmen karotenoid. Pengamatan mikroskopik dilakukan
dalam 2 media, karena bentuk, ukuran dan reproduksi aseksual (budding dan
arthrospora) lebih jelas diamati dalam media Sabouraud Broth, sedangkan media
Cornmeal Agar-Tween 80 digunakan untuk pembentukan hifa dan pseudohifa dan menstimulasi
pembentukkan spora. Pemberian Tween 80 berguna untuk mempercepat pertumbuhan
chlamydospora. Dari hasil pengamatan dengan menggunakan Slide Culture,
tidak satu pun isolat yang menampakkan adanya chlamydospora, yang pada umumnya
dimiliki oleh Candida patogen yaitu Candida albicans. Uji kapsul
dilakukan karena beberapa khamir memiliki kapsul, sehingga sangat perlu untuk
identifikasi. Jika khamir memiliki kapsul maka dengan pewarnaan kristal violet
dan tembaga sulfat, kapsul akan tampak sebagai lingkaran berwarna biru pucat
mengelilingi sel-sel berwarna biru tua sampai ungu. Dari hasil pewarnaan
tersebut, uji positif hanya terdapat pada khamir 1 (Rhodotorula) dan
khamir 7 (Cryptococcus). Salah satu karakteristik dari Cryptococcus adalah
memiliki kapsul, sedangkan Rhodotorula ada juga yang memilikinya
(Larone, 1993). Khamir berbeda kemampuannya dalam menghidrolisis urea
konsentrasi tinggi menjadi amoniak dalam media lengkap yang mengandung pepton
sebagai sumber nitrogen (Kreger-van Rij, 1987). Pada uji urease dengan menggunakan
media Christensen’s Urea Agar (mengandung pepton, urea, dan phenol red), hanya
khamir 1 (Rhodotorula), khamir 6 (Trichosporon) dan khamir 7 (Cryptococcus)
yang memberikan uji positif. Hal ini menunjukkan bahwa khamir tersebut memiliki
kemampuan menghasilkan urease. Jika ada aktivitas urease, amoniak akan
dihasilkan, pH medium naik dan akan terjadi perubahan warna phenol red dari
kuning (pH 6,8) menjadi merah keunguan (pH > 8,1). Uji askospora dilakukan
dengan metode modifikasi Scaeffer-Fulton’s. Jika khamir memiliki askospora,
maka dengan pewarnaan tersebut askospora akan berwarna hijau dan sel vegetatif
berwarna merah. Hasil uji askospora hanya khamir 8 (Debaryomyces) dan
khamir 9 (Saccharomyces) yang memberikan hasil positif. Pada khamir 8 (Debaryomyces)
memiliki askospora berbentuk bulat dengan jumlah 1-3 (umumnya 1), sedangkan
khamir 9 (Saccharomyces) mengandung 1-4 askospora dengan bentuk bulat.
Spora tersebut tidak nampak dibebaskan dari askus.
Sumber
:
Tri Nurhariyati, Ni’matuzahroh, Tini Surtiningsih. 2004. KEANEKARAGAMAN KHAMIR
PENDEGRADASI MINYAK HASILISOLASI DARI PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA.
Surabaya : FMIPA-Universitas Airlangga
No comments:
Post a Comment